Karet Masuk Pabrik Harus Bersih

PT Bridgestone Tire Indonesia yang mempunyai dua pabrik ban di Indonesia yaitu di Karawang dan Bekasi sampai saat ini tidak punya masalah dengan bahan baku karet. Bahan baku karet sepenuhnya datang dari Indonesia yang selama ini dipasok dari Lampung. Tasik dan Sukabumi. “Kita tidak pernah kekurangan pasok yang kita tahu harganya naik terus. Khusus untuk pabrik ban, karet yang disukai adalah karet yang berasal dari Jawa dan Sumatera,” kata Agus Sarsito, Manajer Field Service Engineering PT Bridgestone Indonesia.

 

Bridgestone merupakan perusahaan multinasional yang berkantor pusat di Jepang dan mempunyai pabrik di seluruh dunia sehingga bila ada satu pabrik kekurangan bahan baku bisa dipasok dari pabrik lain. Tetapi untuk bahan baku karet Bridgestone di seluruh dunia juga pabrik ban lainnya pada umumnya mengambil bahan baku dari Indonesia, Malaysia, Thailand dan sedikit dari Brazil karena hanya negara-negara ini saja yang menghasilkan karet alam dalam jumlah besar.

Mengenai mutu karet yang sesuai dengan kriteria sudah ada panduanya dari technical centre Bridgestones di Jepang, Roma dan AS. Pada umumnya semua pabrik persyaratanya hampir sama, yang penting adalah jangan sampai ada material tambahan yang masuk ke karet. Material sekecil apapun kalau sampai lolos akan membuat mutu ban jelek. “Misalnya untuk ban dalam kalau ada ranting kecil bisa membuat ban bocor, ada pasir kecil saja kalau kena angin bisa lepas. Benda asing dalam karet misalnya besi akan menimbulkan gesekan sehingga panas yang bisa mempengaruhi benang ban. Pokoknya karet yang masuk harus benar-benar bersih, tidak hanya untuk ban dalam tetapi untuk ban luar juga karena material bersih ini akan mempengaruhi performance ban,” katanya.

Bridgestone harus memastikan supaya karet yang masuk ke pabrik benar-benar bagus sehingga secara rutin tiap enam bulan sekali mengadakan inspeksi ke pabrik pengolahan karet pemasok. Bridgestone sudah menerapakan standar ISO karena itu harus ada audit ke pemasok tiap enam bulan sekali. “Kalau perusahaan sudah standar ISO sedang pemasok tidak mutunya bisa tidak bagus. Kita hanya sampai ke industri pengolahan yang menghasilkan crumb rubber saja atau SIR saja, tidak sampai ke tingkat kebun” katanya.

Meskipun karet masuk dari pemasok yang sudah diaudit, kualitas tetap yang utama. Sebelum barang masuk tetap harus ada pemeriksaan laboratorium. Bila memenuhi syarat maka boleh masuk di olah bila tidak memenuhi syarat di tolak. Banyak juga karet yang ditolak karena tidak memenuhi standar kualitas.

Bahan baku lain yang diperlukan dalam jumlah relatif agak besar adalah carbon black. Bridgestones Indonesia mendapat pasokan dari Cabot baik Cabot Indonesia, maupun impor dari Cabot Australia atau Korea Selatan tergantung dari spesifikasi produk yang diinginkan. Secara sumber daya seharusnya kebutuhan carbon black bisa diproduksi di dalam negeri karena bahan bakunya minyak bumi tetapi belum ada investor yang membangun pabrik carbon black skala besar di Indonesia ini. Bahan baku lainnya adalah polyester dan benang nylon pemasoknya ada dari lokal yaitu Petrochem dan Branta Mulia ada juga yang impor sesuai dengan spesifikasi ban yang dibutuhkan. Bahan baku terbesar tetap karet yang sepenuhnya dipasok dari dalam negeri.

Setiap hari dua pabrik ban Bridgestone di Bekasi dan Karawang menghasilkan 35.000-40.000 ban mobil tergantung dari jenis ban yang dihasilkan. Hitungan untuk produksi adalah berapa crum rubber yang digunakan sebab kalau jumlah ban tergantung pada jenis ban yang dihasilkan. Kalau ban kecil-kecil jumlahnya lebih banyak sedang kalau ban besar jumlahnya lebih sedikit. Penentu ban yang diproduksi oleh satu pabrik berbeda dengan ban yang diproduksi pabrik lain bukan pada bahan bakunya karena semuanya karet tetapi pada proses komposisi compoundnya. Ban yang mempunyai kembang yang sama tetapi dari pabrik yang berbeda akan punya kinerjanya akan berbeda, demikian juga bila dalam satu pabrik tetapi typenya berbeda.

Bridgestones Indonesia tidak memproduksi ban sepeda motor karena di Indonesia sudah ada IRC. IRC kalau di Jepang satu group dengan Bridgestone tetapi di Indonesia masuk ke group Gajah Tunggal. Hal ini sama seperti Dunlop dan Goodyear, kalau di AS satu group tetapi kalau di sini pemiliknya berbeda-beda sehingga bersaing. Ada juga beberapa spesifikasi ban mobil yang tidak diproduksi di Indonesia sehingga harus mengimpor dari pabrik Brigdestone lain di luar negeri. Hal ini wajar dalam proses produksi perusahaan global. Di negara lain ban-ban jenis tertentu tidak diproduksi, sedangkan Indonesia memproduksi ban jenis itu sehingga kebutuhanya di pasok dari Indonesia. “Misalnya kemarin Bridgestones Indonesia dapat tawaran TNI AU soal ban pesawat udara tetapi di sini kita tidak memproduksi sehingga diminta langsung berhubungan dengan Brigdgestone Asia Pasific di Hongkong yang punya divisi aircraft,” katanya.

Sekitar 70% ban yang diproduksi Bridgestone Indonesia ditujukan untuk ekspor dan untuk pasar lokal 30%. Sedikitnya porsi untuk pasar lokal karena permintaanya masih terbatas sedang persaingan sangat ketat, ada 7 pabrik ban lain yang besar seperti Gajah Tunggal, Dunlop, Good Year, industri karet Deli, Multi strada dan lain-lain, belum lagi serbuan ban impor. Di dalam negeri pasar 45-50% untuk oem (original equipment market) yaitu pabrik-pabrik mobil, agak dibatasi karena kapasitasnya juga terbatas. Di after market yaitu toko-toko ban yang menjual langsung pada konsumen mencapai 40-42% . Di pasar ini persaingan semakin berat dengan banyaknya ban impor.

“Bukan kita saja yang sebagian besar produknya untuk pasar ekspor, hampir semua pabrik ban melakukan hal yang sama, rata-rata 70-80% produknya ditujukan ke pasar ekspor. Bahkan pabrik ban kecil yang memproduksi ban sepeda motor juga rata-rata ekspor seperti ke Turki. Untuk ban, Indonesia termasuk eksportir terbesar karena ketersediaan bahan baku cukup dan tenaga kerja relatif lebih murah. Industri yang berbahan baku karet seperti ban ini seharusnya jadi andalan Indonesia,“ katanya. Di pasar dunia pesaing utama Bridgestone adalah Michelin, masing-masing penguasaan pasarnya mencapai 20%.

Sebagai Manajer Field Service Engineering, Agus sehari-hari banyak mengurusi masalah teknis ban. Demikian juga di Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia sering berhubungan dengan masalah standarisasi. Kepada pengguna Agus menekankan menggunakan ban itu harus cocok kategorinya antara kategori ban penumpang, industri dan lihgt truck komersial. Kendaraan pribadi sedan dengan minibus berbeda, demikian juga mini bus dengan light truck. Ukuran bisa sama tetapi kontruksinya berbeda-beda sehingga harus dipakai sesuai dengan peruntukkanya. Contohnya di Afrika Selatan, negara ini tidak punya pabrik ban, yang ada hanya untuk vulkanisir. Karena itu mereka impor dengan ukuran sama dari Jepang ternyata pecah semua. Setelah diteliti ternyata ban dengan ukuran sama ini dibuat untuk monorel.

“Di sini saya pernah dikomplain ban forklift jumlahnya banyak pecah semua. Saya curiga karena ban ini dirancang untuk forklift yang hanya jalan di pabrik sehingga karetnya tebal. Ternyata ban itu digunakan untuk low deck trailer di jalan tol sehingga pecah semua,” katanya.

Hal terpenting yang harus diperhatikan pengguna ban adalah tekanan angin yang tepat. Nyawa ban itu di angin sehingga sebagus dan semahal apapun ban yang digunakan bila tekanan anginnya tidak tepat membuat ban tidak optimal dan bisa berbahaya. “Masalah angin ini jangan disepelekan. Sekarang ada SNI ban seharusnya ada juga SNI cara menggunakan ban yang diterapkan secara sukarela. Angin tidak penting hanya untuk run flat tyre yang untuk Bridgestones hanya di produksi di Jepang dan Polandia, sedang di Indonesia belum karena pasarnya sedikit. Ban ini meskipun ditusuk tetap bisa dipakai melaju sampai 100 km/jam dan biasanya digunakan untuk mobil-mobil premium,” katanya. (S)

 

Add comment


Security code
Refresh

News image

Bioteknologi Pada Kelapa Sawit Keharusan

Aplikasi bioteknologi pada kelapa sawit sudah merupakan keharusan. “Kita tidak bisa lagi melakukan perbaikan tanaman dengan pemuliaan konvesional. Perlu waktu yang sangat lama dengan kenaikan produktivitas yang tidak terlalu besar,” kata Tony Li...

READMORE
News image

PT KIS Indonesia, Mengubah Limbah Menjadi Berkah

Pertumbuhan pabrik kelapa sawit (PKS) menyebabkan bertambah banyaknya limbah  yang dihasilkan dari proses produksi pabrik-pabrik tersebut. Karena menurut LSM tersebut proses produksi PKS yang menghasilkan CPO juga menghasilkan POME dalam volume yang...

READMORE
News image

Akses Harga Komoditas Perkebunan di Kementan

Perkembangan harga beberapa komoditas perkebunan kini dapat diakses melalui berbagai media. Informasi ini mendongkrak daya tawar petani.

READMORE
News image

Mitra Balai Industri Produksi 1000 Mesin Pertanian Setiap Tahun

PT Mitra Balai Industri (MBI) dibangun dengan pertama kali dengan karyawan dua orang dan dalam waktu tidak terlalu lama hanya hitungan tahun saat ini karyawanya mencapai sekitar 100 orang.

READMORE
News image

Perkebunan Kelapa Sawit Sebagai Agro Energi Penghasil Listrik

Perusahaan perkebunan kelapa sawit perlu mengubah paradigma, saat ini bukan lagi sekedar agro estate melainkan agro energi penghasil listrik. Hal ini terjadi dengan pemanfaatan POME (Palm Oil Mill Efluent) untuk menghasilkan tenaga listrik melalui me...

READMORE
News image

Abu Bakaran, Pupuk Alternatif Kakao

Penggunaan abu bakaran dari sisa pengolahan kakao ternyata bisa meningkatkan kandungan K di dalam tanah. Sehingga cocok diaplikasikan pada perkebunan kakao.

READMORE
News image

Sensus Penyakit & Penanggulangan Gonoderma

  Sensus penyakit Ganoderma mutlak diperlukan tetapi biayanya sangat mahal, karena harus dilakukan pada setiap pohon kelapa sawit. Sensusnya juga cukup sulit karena gejalanya sering tidak muncul. Idealnya dilakukan dua kali setahun. Sensus yang bai...

READMORE
News image

Pemupukan & Pengendalian Hama Penyakit Ala RSUP

PT. Riau Sakti United Plantation, merupakan beberapa perusahaan kelapa di Indonesia yang masih tersisa, khususnya di daerah Sumatera.Dalam mengembangkan kebun kelapa yang efisien RSUP menerapkan beberapa prosedur, khususnya dalam pemupukan dan penge...

READMORE
News image

Virgin Oil Anti Kolesterol

Virgin oil yang dihasilkan dari kelapa ternyata memiliki khasiat menurunkan kolesterol. Sehingga layak dikonsumsi sebagai suplemen untuk meningkatkan kesehatan. Menurut Dra. Ani Setyopratiwi,M.Si, peniliti sekaligus pengajar di Jurusan Kimia, Fakult...

READMORE
News image

Karet Masuk Pabrik Harus Bersih

PT Bridgestone Tire Indonesia yang mempunyai dua pabrik ban di Indonesia yaitu di Karawang dan Bekasi sampai saat ini tidak punya masalah dengan bahan baku karet. Bahan baku karet sepenuhnya datang dari Indonesia yang selama ini dipasok dari Lampung...

READMORE
  • Teknologi
  • Kesehatan
  • Daerah
  • Budidaya

REDAKTUR PELAKSANA

Yuwono Ibnu Nugroho


REDAKSI

Hendra J Purba, Suntoro, Yogi Riswanto, Desputriayu, Nia, Puspa, Ida Farida

ALAMAT REDAKSI

Kanpus Kementerian Pertanian,  Gedung C. Lt.5 Ruang 507. Jl. RM. Harsono No. 3 Ragunan Jakarta 12550 Indonesia. Telp. 021-78846587, Fax: 021-78846587, Hunting Telp: 021- 7815380 ext. 4529, E-mail: media_perkebunan@yahoo.co.id, website www.mediaperkebunan.net

Template Joomla 1.6

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.