Tuesday, 30 October 2012 11:31   
Kebutuhan Bibit Gernas Karet Bisa Dipenuhi

Mediaperkebunan - Gernas karet yang akan diselenggarakan tahun 2013 sudah mulai dipersiapkan dengan melakukan inventarisasi kebun sumber benih tanaman karet baik yang berupa biji batang bawah maupun entres. Hasilnya diperkirakan kebutuhan bibit  karet bisa tercukupi. Rismansyah Danasaputra, Direktur Tanaman Tahunan, Ditjen Perkebunan menyatakan hal ini pada Konferensi Nasional Karet.

 

Kebutuhan benih karet untuk Gernas karet tahun 2013 adalah 44.000.000 batang untuk peremajaan seluas 80.000 ha. Hasil inventarisasi menunjukkan ketersediaan benih untuk biji batang bawah sejumlah 2.089.008.175 butir, equivalent dengan benih siap salur sejumlah 626.702.453 batang, sedang untuk entres karet sejumlah 95.999.400 mata entres. equivalent dengan benih siap salur 76.799.520 batang.

Semua kebun sumber benih karet untuk biji batang bawah maupun kebun entres ini akan dinilai kelayakannya oleh Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Medan supaya mutu benih karet sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Pusat Penelitian Karet diharapkan melakukan penilaian kelayakan kebun sumber benih karet.

Dirut PT. RPN Didiek Hadjar Goenadi menyatakan gernas karet ini sangat penting untuk meremajakan kebun petani yang sudah tua. Gernas karet merupakan kebijakan yang memihak rakyat karena karet 85% dikuasai oleh rakyat.
“Mereka sudah berjasa memberikan devisa cukup besar sekarang saatnya bagi pemerintah untuk membantu mereka. Soal bibit itu urusan kami, kami siap memasok bibit berapapun juga yang diinginkan pemerintah” katanya.

Nancy Cycilia, peneliti Pusat Penelitian Karet menyatakan dalam beberapa tahun terakhir permintaan bibit karet melonjak sangat tajam. Kebutuhan bibit karet unggul dari pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota untuk bantuan petani setiap tahun cukup banyak.
Sumsel, Jambi, Riau, Kalbar dan Kalsel yang merupakan sentra karet setiap tahun pasti memberikan bantuan bibit kepada petaninya, dengan Sumsel dan Jambi yang terbanyak.

Beberapa perusahaan swasta juga memberikan dana CSR dalam bentuk pemberian bibit karet pada masyarakat di sekitarnya. Hal ini dilakukan oleh perusahaan migas dan industri kayu karet di Sumsel, juga perusahaan batu bara di Kalsel. Permintaan perusahaan ini juga menyebabkan kenaikan permintaan bibit karet dalam jumlah besar.
Minat petani untuk menanam karet secara swadaya juga meningkat. Tahun 1990 tingkat adopsi bahan tanaman unggul petani karet di Sumsel hanya 40% sedang tahun 2011 mencapai 59%. Kondisi ini menyebabkan produktivitas karet rakyat di Sumsel mencapai 1-1,2 ton karet kering/ha/tahun.
Kebutuhan karet klonal petani di Sumsel saja tiap tahun 7,7 juta batang dan hampir sepenuhnya dipenuhi penangkar sebab Balai Penelitian Sembawa hanya mampu memasok 5-10% dari kebutuhan itu.
Di Jambi setiap tahun diperkirakan luas perkebunan karet swadaya oleh petani mencapai 3.000 ha sehingga untuk Jambi dan Sulsel saja  kebutuhan bibit sudah mencapai 9 juta batang. Penanaman swadaya juga banyak dilakukan di Sumut, Riau, Kalsel dan Kalbar.

 

Add comment


Security code
Refresh

  • Teknologi
  • Kesehatan
  • Daerah
  • Budidaya

REDAKSI MEDBUN

Heri Moerdiono, Hendra J Purba, Suntoro, Ika Sriyantika, Ida Farida, Yogi Riswanto,